Oleh: PKB Demak | 12 November 2007

Agenda NU ke Depan


nu.jpg

 


Komitmen Kepada Kaum Miskin
Riset yang dirilis The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi Daerah (JPIP) pada 15 Oktober 2007 tentang kebijakan pengentasan kemiskinan di tiga kota -Jatim, Jateng dan NTB- perlu diperhatikan serius oleh kalangan nahdliyin. Terutama bagi pengurus baru PW NU Jatim 2007-2012. Karena itu, hasil riset tersebut perlu dijadikan salah satu paradigma baru NU dalam konteks kebangsaan dan kerakyatan.

Ada dua catatan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, catatan yang menggembirakan. NU telah menjadi bagian terpenting dari upaya pengentasan kemiskinan. Hal itu membuktikan bahwa NU hadir di tengah masyarakat untuk melayani umatnya, terutama kaum miskin. Komitmen terhadap kaum miskin tersebut disponsori kader-kader muda NU, terutama Fatayat, IPNU, dan IPPNU.

Kedua, catatan kritis sekaligus sebagai masukan bagi pengurus baru PW NU. Gerakan memberantas kaum miskin masih merupakan gerakan kultural yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan beberapa organisasi kepemudaan di bawah naungan NU.

Sebaliknya, pengurus struktural yang mendapatkan mandat resmi dari warga NU pada tingkat akar rumput masih belum menunjukkan keseriusan untuk menjadikan program anti kemiskinan sebagai program utama.

Faktanya, para ulama dan kiai yang merupakan perekat dan teladan ulama dalam beberapa tahun terakhir terlibat dalam hiruk-pikuk politik. Mereka lebih tertarik berkumpul dalam urusan politik praktis daripada urusan yang menyangkut hajat serta kebutuhan hidup umatnya.

Tidak ada yang salah jika ulama dan kiai berpolitik praktis. Seperti halnya warga negara lainnya, mereka mempunyai hak yang sama untuk mengangkat harkat umat melalui politik. Tapi, yang amat menyedihkan, politik yang diperjuangkan adalah kekuasaan, bukan politik kerakyatan.

Lihat, misalnya, politikus NU yang melakukan migrasi politik dari PKB ke PKNU. Mereka enggan melepaskan jabatannya sebagai anggota Fraksi PKB di DPRD. Padahal, secara etis dan legal-formal, jika bermigrasi politik, otomatis mereka harus meletakkan jabatan di parlemen.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan masih merupakan paradigma langka bagi elite struktural NU. Paradigma yang mengemuka pada umumnya adalah paradigma politik praktis.

Belum Integral

Dalam konteks NU, sebenarnya sudah muncul upaya mewujudkan teologi anti kemiskinan. Secara struktural sudah diprakarsai PW NU Jawa Timur dengan upaya memantapkan ASWAJA dalam konteks kekinian. Program pemberdayaan masjid juga diadakan di berbagai cabang/kabupaten di Jawa Timur, bahkan di berbagai wilayah dan cabang di tanah air.

Namun, langkah tersebut belum menjadi bagian integral dari upaya pengentasan kemiskinan yang bersifat menyeluruh. Sebab, pada hakikatnya, pengentasan kemiskinan mempunyai ukuran-ukuran yang konkret, yang tidak hanya berhenti pada tataran wacana belaka.

PBB melalui Millenium Development Goals (MDG’s) menegaskan, program pengentasan kemiskinan harus meliputi aspek pendidikan, ekonomi, kesehatan masyarakat, dan lingkungan yang bersih.

JIka ukuran-ukuran itu dijadikan barometer untuk melihat sejauh mana program pengentasan kemiskinan ditransformasikan di tengah-tengah masyarakat, harus diakui, masih banyak kekurangan yang luar biasa.

Jumlah warga Indonesia yang menjadi TKI-TKW terus bertambah. Sebagian besar di antara mereka adalah warga NU. Hal itu menunjukkan bahwa ekonomi di tingkat lokal masih belum mampu mengangkat mereka dari kemiskinan.

Longsor dan banjir hampir menjadi langganan setiap musim penghujan. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam yang disebabkan kurangnya perhatian terhadap lingkungan tersebut terjadi di berbagai daerah di tanah air dan Jawa Timur yang merupakan basis warga NU. Bahkan, ada salah satu pondok pesantren yang lenyap akibat longsor. Jadi, korban kurangnya perhatian terhadap lingkungan adalah warga NU.

Ancaman kekurangan gizi bagi anak-anak dan pelayanan kesehatan yang rendah juga menjadi salah satu masalah yang cukup serius. Sebagian besar warga NU tinggal di daerah pedesaan yang mayoritas tidak terjangkau pelayanan kesehatan yang memadai.

Konsekuensinya, korban semua itu adalah anak-anak dan kaum ibu karena minimnya pelayanan kesehatan serta pendidikan tentang kesehatan reproduksi.

Semua masalah tersebut disebabkan akutnya masalah kemiskinan yang dihadapi masyarakat. Dalam kategori kemiskinan yang dirilis PBB, umumnya warga Indonesia tergolong miskin ekstrem (extreme poor). Yaitu, mereka yang pendapatannya kurang dari USD 1 per hari. Sebagian di antara mereka juga termasuk miskin sedang (moderate poor), pendapatannya kurang dari USD 2 per hari.

Dari situ, sudah selayaknya para elite PW NU mencanangkan komitmen terhadap kaum miskin sebagai prioritas kerja pada tahun-tahun mendatang. Sebab, kemiskinan ibarat “tamu yang tak diundang” yang akan senantiasa hadir di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, setidaknya ada dua agenda utama yang perlu dilakukan NU. Pertama, membuat program-program riil yang menjadikan kaum miskin sebagai sasaran utama. Program berupa penajaman teologi dan wawasan keagamaan juga penting. Tapi, yang jauh lebih penting adalah program-program nyata di berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ekonomi.

Kedua, menggalakkan advokasi kebijakan publik agar pemerintah daerah ikut menjadi salah satu sponsor utama untuk mewujudkan program-program tersebut. Dalam hal ini, NU bisa mengambil peran kontrol terhadap kebijakan publik.

NU juga bisa menjadi mitra strategis bagi implementasi program-program pengentasan kemiskinan, terutama di berbagai daerah yang secara otomatis pemerintah daerahnya berasal dari basis politik warga NU.

Dengan demikian, pilihan untuk memihak dan mengangkat harkat kaum miskin merupakan keniscayaan teologis sekaligus politis. Sudah saatnya NU mengambil peran konkret untuk membalas kepercayaan yang diberikan publik kepada para elitenya.

*Oleh : Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU (sumber :http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=311010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: